Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/1K6fA9dHG8PHKAvV9
Judul buku : Industri Otomotif Untuk Negeri: Menjadi Pemain Utama Era Mobil Listrik
Penulis buku : Agus Tjahajana Wirakusumah
Penerbit : Pustaka Kaji
Tahun terbit : 2021
Jumlah halaman : 455 halaman
Harga buku : Rp250.000
ISBN : 990-503-89024-21-2
Buku ini memaparkan perjalanan dan dinamika industri otomotif di Indonesia. Agus sebagai penulis buku yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di Kementerian Perindustrian RI ini berharap, di antara referensi terbatas tentang struktur lengkap industri otomotif Indonesia, karyanya dapat menjadi sumber penting bagi seluruh pemangku kepentingan dalam industri manufaktur. “Harapan saya, buku ini menjadi referensi yang lengkap dan komprehensif bagi industri otomotif yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi negeri ini selama lima dekade terakhir,” jelas Agus dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis, Jumat, 17 Desember 2021.
Buku ini bercerita tentang dunia nyata perdagangan otomotif di Indonesia yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Perdagangan mobil saat itu mempromosikan beberapa merek mobil dari Amerika Serikat dan Eropa dengan mitra bisnis lokal. Pengusaha lokal ini memasarkan mobil asal Amerika Serikat dan Eropa sebagai importir. Buku ini juga memaparkan para pionir industri otomotif yang sedang berkembang di Indonesia, seperti Willian Soeryadjaya, Hadi Budiman dan Sjarnoebi Said, serta Soebronto Laras. Mereka membuka jalan bagi merek otomotif global dengan perusahaan atau kelompok usahanya, seperti PT Astra International Tbk, PT Honda Prospect Motor, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk.
Jasa mereka membuat merek otomotif dunia asal Jepang, seperti Honda, Toyota, Suzuki dan Mitsubishi ekspansi ke Indonesia sejak 1970-an hingga saat ini. Menariknya, buku ini juga menulis tentang perjuangan Indonesia membangun mobil merek nasional (mobnas) dengan konteks global. Mulai era "mobnas" sebelum sedar Timor, mobil Esemka, hingga mobil mikro nasional seperti Ammdes. Ini menjadi salah satu cerita menarik perjalanan industri di Tanah Air sekaligus gambaran betapa tidak mudahnya kegiatan mengembangkan mobil merek nasional. Buku ini juga secara khusus menjelaskan soal peluang dan tantangan industri otomotif Indonesia di era mobil listrik. Termasuk bagaimana potensi Indonesia bisa menjadi pemain utama di era mobil zero emission, setelah era mobil Internal Combustion Engine (ICE).
Sinopsis Buku
Pengembangan industri
otomotif nasional telah memasuki usia lima dekade saat ini. Perjalanan panjang
tersebut masih tetap menyisakan banyak sekali catatan penting. Dari sisi
produksi dan penjualan, bisnis otomotif di Indonesia masih akan terus tumbuh karena
pemilikan kendaraan per-1000 orang masih terendah di kawasan.
Namun, secara kualitatif tidak demikian.
Indonesia masih harus bekerja keras untuk menggarap pasar ekspor yang lebih
besar, kalah oleh Thailand, karena tidak memiliki amunisi produk seperti sedan
sebagai pangsa pasar global terbesar. Dari sekian dekade, masalah pengembangan
dan kepemilikan teknologi kendaraan masih harus dicari jalan keluarnya. Salah
satunya, antara lain belum muncul entrepreneur Indonesia yang berani berjibaku
untuk mengembangkan mobil merek sendiri.
Sedangkan di Vietnam, entrepreneur seperti itu
muncul hanya dengan pasar sebesar 200-an ribu per tahun. Di tengah kegalauan
tersebut, dalam satu dekade belakangan, justru muncul tantangan baru yaitu
tuntutan fenomena global akan zero emission yang lebih revolusioner. Hal itu
akan mengubah perilaku dan kebijakan produksi otomotif dunia. Saat ini,
terlihat ada dua pola kebijakan yang akan saling bersaing. Pertama, kebijakan
yang mencoba mempertahankan dengan memperbaiki teknologi yang eksis dan mencari
bahan bakar baru menggunakan infrastruktur berbasis teknologi motor penggerak.
Namun dengan emisi yang
hampir mendekati atau sama dengan nol, salah satunya adalah teknologi hidrogen.
Kedua, kebijakan yang mengganti motor bakar dengan teknologi motor listrik
(electric vehicleEV). Kebijakan pertama akan tetap menggunakan infrastruktur
teknologi bahan bakar yang ada saat ini. Namun, untuk EV, dari sisi motor
penggerak, sebenarnya tidak menjadi masalah besar, justru kendala adalah di sisi
hilir yang begitu kompleks. Pertanyaan besar, bagaimana menyiapkan industri otomotif nasional yang bertranformasi.
Keunggulan Buku
1. Buku ini dapat memaparkan mengenai industri otomotif Indonesia secara lengkap dan mudah untuk dipahami.
2. Mampu memberikan gambaran mengenai perjuangan Indonesia membangun mobil merek nasional (mobnas)
3. Buku ini merangkum kebijakan dan regulasi soal industri manufaktur sejak 1970 hingga 2021, termasuk peristiwa-peristiwa penting dan menarik.
4. Cocok bagi pemula yang ingin mempelajari awal masuknya industri otomotif di Indonesia dari era pemerintahan Belanda hingga sekarang
Kekurangan Buku
1. Masih terdapat tanda baca dan pengetikan yang kurang tepat, seperti penulisan bahasa asing yang tidak bercetak miring
2. Memiliki halaman yang banyak, sehingga dapat membuat pembacanya merasa bosan
Sumber: https://www.gaikindo.or.id/buku-karya-agus-tjahajana-wirakusumah-potret-industri-otomotif-ri/

Komentar
Posting Komentar